Standart Pelayanan Kefarmasian di Apotek Yang Benar

Download Software Apotek dan Klinik Gratis Klik Disini !!

Standart Pelayanan Kefarmasian – Dengan semakin meningkatnya persaingan pasar banyak perusahaan mengembangkan strategi jitu dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, salah satunya adalah dengan memberikan pelayanan prima, yaitu jika perlakuan yang diterima oleh pelanggan lebih baik daripada yang diharapkan, maka hal tersebut dianggap merupakan pelayanan yang bermutu tinggi.

Standart Pelayanan Kefarmasian di Apotek  Indonesia, umumnya mencakup beberapa hal dibawah ini :

  1. Pelayanan obat non resep
  2. Pelayanan komunikasi – informasi – edukasi ,
  3. Pelayanan obat resep dan
  4. Pengelolaan obat

1.) Pelayanan obat non resep

Pelayanan Obat Non Resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi :

  1. obat wajib apotek (OWA),
  2. obat bebas terbatas dan
  3. obat bebas

Obat wajib apotek terdiri dari Kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topical.

2.) Pelayanan komunikasi – informasi – edukasi

Berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain, termasuk kepada dokter. Termasuk memberi informasi tentang obat baru atau tentang produk obat yang sudah ditarik. Hendaknya aktif mencari masukan tentang keluhan pasien terhadap obat-obat yang dikonsumsi. (Apoteker mencatat reaksi atau keluhan pasien untuk dilaporkan ke dokter, dengan cara demikian ikut berpartisipasi dalam pelaporan efek samping obat ).

  • Konseling pasien merupakan bagian dari KIE.

Kriteria pasien yang memerlukan pelayanan konseling diantaranya penderita penyakit kronis seperti asma, diabetes, kardiovaskular, pasien lanjut usia, anak-anak, penderita yang sering mengalami reaksi alergi pada penggunaan obat dan penderita yang tidak patuh dalam meminum obat.

  • Konseling hendaknya dilakukan di ruangan tersendiri yang dapat terhindar dari macam interupsi.

Pelayanan konseling dapat dipermudah dengan menyediakan leaflet atau booklet yang isinya meliputi patofisiologi penyakit dan mekanisme kerja obat.

Baca Juga : Software Apotek Yang Bagus Untuk Bisnis Farmasi

3.) Pelayanan obat resep

Pelayanan resep sepenuhnya tanggung jawab APA. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat yang ditulis dalam resep dengan obat lain.

Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih terjangkau .

Pelayanan resep didahului proses skrining resep yang meliputi pemeriksaan kelengkapan resep, keabsahan dan tinjauan kerasionalan obat.

Resep yang lengkap harus ada nama, alamat dan nomor ijin praktek dokter, tempat dan tanggal resep, tanda R/ pada bagian kiri untuk tiap penulisan resep, nama obat dan jumlahnya, kadang-kadang cara pembuatan atau keterangan lain (iter, prn, cito) yang dibutuhkan, aturan pakai, nama pasien, serta tanda tangan atau paraf dokter.

Tinjauan kerasionalan obat meliputi pemeriksaan dosis, frekuensi pemberian, adanya medikasi rangkap, interaksi obat, karakteristik penderita atau kondisi penyakit yang menyebabkan pasien menjadi kontra indikasi dengan obat yang diberikan.

4.) Pengelolaan obat

Dalam bidang pengelolaan obat meliputi kemampuan merancang, membuat, melakukan pengelolaan obat di apotek yang efektif dan efesien.

Penjabarannya adalah dengan melakukan seleksi, perencanaan, penganggaran, pengadaan, produksi, penyimpanan, pengamanan persediaan, perancangan dan melakukan dispensing serta evaluasi penggunaan obat dalam rangka pelayanan kepada pasien.

a.   Skrining resep

  1. Persyaratan administratif, seperti nama, SIK dan alamat dokter; tanggal penulisan resep, nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian yang jelas, informasi lainnya.
  2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
  3. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain.

Baca Juga : Pengelolaan Obat Apotek Yang Baik dan Benar

b.   Penyiapan obat

Peracikan yang merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas, dan memberikan etiket pada wadah.

  1. Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
  2. Kemasan obat yang diserahkan harus rapi dan cocok sehingga terjaga kualitasnya.
  3. Penyerahan obat pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara jumlah obat dengan resep dan penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat kepada pasien.
  4. Apoteker memberikan informasi yang benar, jelas, dan mudah di mengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas yang harus dilakukan dan dihindari serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
  5. Apoteker harus memberikan konseling kepada pasien sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien. Konseling terutama ditujukan untuk pasien penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus, TBC, asma, dan lain-lain).
  6. Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat.
  7. Promosi dan edukasi

Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang ingin melakukan upaya pengobatan diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit yang ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan ini.

Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan dan lain-lain.

Standart Pelayanan Kefarmasian di Apotek

5.) Pelayanan residensial (HomeCare)

Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan Standart Pelayanan Kefarmasian di Apotek yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan penyakit kronis. Untuk kegiatan ini, apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (Patient Medication Record).

Itulah sekilas mengenai Standart Pelayanan Kefarmasian di Apotek Indonesia. Agar semakin mudah dalam melayani Apotek, kami menyediakan Software Apotek dengan sistem komputerisasi dimana sudah terjamin keakuratan dan efisiensinya.

Informasi pemesanan silahkan hubungi Kontak Kami.
Download Software Apotek dan Klinik Gratis


Incoming Search Terms :

  • Aplikasi Apotek Farmasi
  • Prasyarat Standart Pelayanan Kefarmasian
  • Standart Uji Pelayanan Kefarmasian
  • Pelayanan Kefarmasian
  • Standart Pelayanan Kefarmasian Di Indonesia
  • Kefarmasian Di Indonesia
  • Standart Pelayanan Kefarmasian